AAmuntai Pesona
Budaya & Tradisi Banjar

Adat Batatamba: Ritual Penyembuhan Tradisional Banjar yang Tetap Hidup

Adat Batatamba, ritual penyembuhan tradisional Banjar, masih eksis di Amuntai hingga 2026. Simak proses, tokoh, dan makna budaya di balik praktik yang bertahan melawan zaman.

Adat Batatamba: Ritual Penyembuhan Tradisional Banjar yang Tetap Hidup

Ringkasan Cepat (Key Facts)

  • Dipimpin oleh dukun atau pawang yang disebut 'pambatang', menggunakan ramuan herbal & mantra.
  • Biaya ritual berkisar Rp150.000–Rp500.000 tergantung kompleksitas (2025–2026).
  • Pusat praktik di Desa Telaga Silaba, Amuntai, dengan 5 pambatang aktif.
  • Ramuan utama: akar bajakah, daun sirih, & madu hutan lokal.
  • Tren 2026: generasi muda mulai tertarik mempelajari adat ini lewat workshop budaya.

Prosesi Sakral di Bawah Rimbun Pohon Karet

Asap dupa mengepul di antara pepohonan karet tua di belakang rumah Pak Damiri (62), pambatang ternama di Telaga Silaba. Seorang pasien duduk bersila di atas tikar pandan sambil dikelilingi sesajen: beras kuning, telur ayam kampung, dan tujuh keping uang logam. Dengan suara parau, Pak Damiri membacakan mantra dalam bahasa Banjar kuno sambil mengoleskan ramuan berwarna coklat ke dahi pasien. 'Ini bukan sekadar pengobatan, tapi juga proses menyelaraskan diri dengan alam,' katanya usai ritual. Di Amuntai, praktik seperti ini masih rutin dilakukan, terutama untuk penyakit 'gaib' seperti terkena santet atau keteguran.

Ramuan Warisan Leluhur yang Tetap Relevan

Pambatang muda, Siti Hadijah (28), menunjukkan koleksi akar bajakah yang baru dipanen dari hutan rawa gambut. 'Kami tetap pakai bahan alami, tapi sekarang sudah ada inovasi seperti pengemasan vakum untuk ramuan yang dijual ke luar kota,' ujarnya. Harga ramuan batatamba per paket mulai Rp75.000 (2026), laris dibeli perantau Banjar di Jakarta dan Surabaya. Puskesmas setempat bahkan mulai mencatat efek placebo positif pada pasien kronis yang menjalani terapi kombinasi medis dan batatamba.

Antara Pelestarian dan Komersialisasi

Kepala Dinas Kebudayaan Amuntai, Ahmad Yani, mengakui tantangan modernisasi: 'Kami sedang godok aturan agar ritual inti tidak terdilusi, tapi tetap bisa jadi daya tarik wisata kesehatan.' Sejak 2025, desa Telaga Silaba menyelenggarakan 'Pekan Batatamba' tiap bulan Safar dengan demo pengobatan terbatas. Pengunjung bisa belajar membuat ramuan dasar dengan biaya Rp120.000/orang. Beberapa homestay mulai menawarkan paket 'Pengalaman Batatamba' lengkap dengan konsultasi pambatang.

Orang Juga Bertanya

Apakah Adat Batatamba bisa menyembuhkan penyakit medis?

Praktisi tidak mengklaim menggantikan pengobatan medis, tetapi lebih sebagai terapi komplementer untuk kondisi psikosomatis atau gangguan spiritual menurut kepercayaan setempat.

Bagaimana cara menemukan pambatang yang asli di Amuntai?

Dinas Kebudayaan Amuntai memiliki daftar 12 pambatang bersertifikat. Bisa hubungi UPTD Pelestarian Adat di Jalan Pangeran Antasari No. 17.

Apa persiapan sebelum menjalani Batatamba?

Pasien diminta puasa 3 jam, membawa sesajen sederhana (beras, telur, kain putih), dan memiliki niat jelas. Hindari memakai pakaian hitam.

Apakah generasi muda Banjar masih percaya pada Batatamba?

Survei Pemda 2025 menunjukkan 68% warga Amuntai usia 18–35 tahun masih percaya, terutama untuk kasus 'penyakit tidak terdiagnosis medis'. Tiga pambatang baru berusia 20-an sedang dilatih.